Sherlock Holmes Yang Berbeda

Jangan berharap kita akan menemukan sosok Sherlock Holmes yang seperti kita bayangkan, sosok yang konservatif, dengan mantelnya, kadang membawa kaca pembesar, cangklong yang secara tetap terus mendampinginya, didalam film Sherlock Holmes yang saat ini baru saja hadir di Cineplex Indonesia. Guy Ritchie merubah (dan berhasil) figure seorang Sherlock Holmes menjadi sosok yang sedikit introvert, sangat ahli dalam perkelahian (bahkan ditampilkan sebagai seorang petarung tangan kosong professional), urakan dan berantakan, tetapi mempunyai kejeniusan dan ketajaman pengamatan. Sungguh sosok Sherlock Holmes yang berbeda.

Dengan setting kota London di akhir abad 18an, cerita diawali dengan penangkapan Lord Blackwood (diperankan oleh Mark Strong) yang dilakukan oleh Sherlock Holmes (diperankan oleh Robert Downey, Jr) dan dibantu oleh Dr. John Watson (diperankan oleh Jude Law), seorang sahabat dari Holmes. Lord Blackwood kemudian dihukum mati dengan cara digantung dengan tuduhan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ilmu hitam. Ternyata hukuman gantung tersebut bukan merupakan akhir dari permasalahan yang ada, beberapa hari setelah pemakaman, ternyat Lord Blackwood “hidup kembali” dan kemudian kabur dari makam. Cerita kemudian berlanjut dengan perburuan oleh Holmes dan Watson untuk menemukan kembali Blackwood, dan mengungkapkan misteri dibalik itu semua. Ternyata ada konspirasi yang lebih besar yang melibatkan suatu sekte tertentu di London yang ternyata telah memiliki anggota yang tersebar, termasuk menyusup di pemerintahan.

Guy Ritchie berhasil mengemas film ini menjadi suatu tontonan yang menarik, termasuk juga keberhasilan dalam membangun nuansa kota London pada akhir abad ke 18. Seperti halnya beberapa film Ritchie sebelumnya (Snatch dan Lock, Stock and 2 Smoking Barrells) film ini digambarkan dengan agak “gelap” dan ekspose adegan yang dramatisir dibeberapa adegan, khususnya adalah adegan-adegan pertarungan tangan kosong yang dilakukan oleh Holmes. Film ini merupakan karya hiburan yang “relatif” paling mudah dicerna jika dibandingkan dengan kedua film Ritchie tersebut, dan alur cerita yang relative tidak membosankan membuat film ini menjadi suatu tontonan yang menarik, ditambah lagi dengan perhatian yang cukup detail terhadap banyak hal dan juga pengambilan sudut kamera yang berbeda telah menambah kekayaan film ini.

Ketika beberapa hari lalu saya menyempatkan diri untuk menonton film Avatar, saya berpikir bahwa ini adalah karya seni berkualitas yang akan menutup tahun 2009, ternyata saya salah, karena karya indah penutup tahun 2009 ternyata adalah Sherlock Holmes.

review: 9/10

Tulian ini juga di publikasikan di rizanovara.wordpress.com

Explore posts in the same categories: movie review

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: